Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 11 Juni 2010

KESEHATAN KERJA “HIGIENE PERUSAHAAN INDUSTRI TEKSTIL”

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan makin meningkatnya perkembangan industri dan perubahan secara global dibidang pembangunan secara umum di dunia, Indonesia juga tak mau ketinggalan dengan melakukan perubahan-perubahan dalam pembangunan baik dalam bidang teknologi maupun industri. Memasuki Abad XXI, Indonesia telah mencanangkan Era Industrialisasi. Sejalan dengan tekad tersebut, di dalam GBHN industrialisasi dengan segenap aspeknya sudah dimuat. Pengalaman dari bangsa-bangsa yang telah lama maju menunjukkan, bahwa banyak masalah yang terjadi pada awal industrialisasi, bahkan juga selama industrialisasi itu berjalan.
Dengan adanya perubahan kearah industrialisasi tersebut maka konsekuensinya terjadi perubahan pola penyakit / kasus-kasus penyakit karena hubungan dengan pekerjaan. Seperti disebabkan karena faktor mekanik (proses kerja, peralatan), faktor fisik (panas, bising, radiasi) dan faktor kimia. Pada awal industrialisasi, banyak masyarakat industri (industriawan maupun pekerja) yang belum siap mental, sehingga seringkali menjadi korban dari industri tersebut.
Pada umumnya kesehatan tenaga pekerja sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat pada negara-negara lain yang sudah lebih dahulu maju. Secara umum bahwa kesehatan dan lingkungan dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi. Dimana industrialisasi banyak memberikan dampak positif terhadap kesehatan, seperti meningkatnya penghasilan pekerja, kondisi tempat tinggal yang lebih baik dan peningkatan pelayanan. Akan tetapi kegiatan industrialisasi juga memberikan dampak yang tidak baik juga terhadap kesehatan di tempat kerja dan masyarakat pada umumnya.
Seperti telah disinggung pada paragraf sebelumnya, industrialisasi dapat mendatangkan kemakmuran, tetapi bila tidak dikelola secara profesional akan dapat mendatangkan bencana, misalnya: meningkatkan kecelakaan industri atau kecelakaan kerja, munculnya penyakit akibat pekerjaan (occupational disease), dan meningkatkan kerusakan lingkungan atau ekosistem.
Sadar betapa pentingnya industrialisasi bagi bangsa Indonesia, dan betapa pentingnya pencegahan terhadap dampak buruk tersebut di atas, dan bahkan sekaligus menyadari bahwa perlunya dikembangkan industri yang produktif, efisien dan efektif maka diperlukan pengawasan kesehatan pekerja yang benar-benar nyata oleh pihak pengusaha dengan cara pemeriksaan kesehatan berkala maupun dengan jaminan kesehatan kerja.

1.2. Tujuan Penulisan
1.2.1. Tujuan Umum
Penulis dapat mampu Menjelaskan Higiene Perusahaan Industri Tekstil
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Penulis Mampu menjelaskan definisi dari kesehatan kerja, keselamatan kerja, higiene perusahaan, sanitasi dan arti dari tekstil.
2. Penulis mampu menjelaskan Faktor Lingkungan Kerja di Perusahaa Industri Tekstil
3. Penulis mampu menjelaskan Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja Pada Industri Tekstil
4. Penulis mampu menjelaskan Keserasian Peralatan Dan Sarana Kerja Dengan Tenaga Kerja
5. Penulis mampu menjelaskan Faktor manusia yang ada di lingkungan perusahaan Industri tekstil
6. Penulis mampu menjelaskan Penyakit Akibat Kerja dan Yang Berhubungan Dengan Pekerjaan








BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Kesehatan kerja merupakan spesialisasi dalam Ilmu Kesehatan / Kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar para pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setingi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit / gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum (Sumakmur, 1981).
Menurut Dainur, kesehatan kerja adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara serta tindakan lainnya dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja dengan kesehatan baik fisik, mental maupun sosial yang maksimal, sehingga dapat berproduksi secara maksimal pula (Dainur,1992).
Sedangkan definisi lain menyatakan bahwa kesehatan kerja merupakan aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu tempat (perusahaan, pabrik, kantor, dan sebagainya) dan menjadi pasien dari kesehatan kerja ialah masyarakat pekerja dengan masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Apabila didalam kesehatan masyarakat ciri pokoknya adalah upaya preventif (pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan), maka dalam kesehatan kerja, kedua hal tersebut menjadi ciri pokok (Notoatmojo, 1997).
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja dan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja, lingkungan kerja dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut (Dainur,1999).
Higiene perusahaan adalah upaya pemeliharaan lingkungan keja (fisik, kimia, radiasi, dan sebagainya) dan lingkungan perusahaan.
Higiene (ilmu kesehatan) adalah ilmu yang mempelajari cara-cara yang berguna bagi kesehatan. Secara garis besar perbedaan antara higiene dan sanitasi adalah terletak pada pada hal bahwa higiene lebih mengarahkan keaktifannya kepada manusia perseorangan atau masyarakat umum, sedangkan sanitasi lebih menitik beratkan pengendalian faktor-faktor lingkungan hidup manusia.
Sanitasi adalah usaha pengawasan terhadap faktor-faktor lingkungan fisik manusia yang mempengaruhi atau mungkin dipengaruhi, sehingga merugikan perkembangan fisik, kesehatan, dan kelangsungan hidup.
Tekstil adalah material fleksibel yang terbuat dari tenunan benang. Tekstil dibentuk dengan cara penyulaman, penjahitan, pengikatan, dan cara pressing. Istilah tekstil dalam pemakaiannya sehari-hari sering disamakan dengan istilah kain. Namun ada sedikit perbedaan antara dua istilah ini, tekstil dapat digunakan untuk menyebut bahan apapun yang terbuat dari tenunan benang, sedangkan kain merupakan hasil jadinya, yang sudah bisa digunakan.

2.2. Faktor Lingkungan Kerja di Perusahaa Industri Tekstil

Berdasarkan proses produksi pada industri busana, factor lingkungan kerja memungkinkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan tenaga kerja, sebagaimana dapat dilihat pada tabel.



Tabel: Faktor-Faktor Lingkungan Kerja
No Proses Pruduksi Faktor Lingkungan Kerja
1

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8. Gudang Bahan

Pola dan Pemotongan Bahan

Menjahit

Pemotong sisa benang

Pengecekan kualitas

Seterika

Finishing

Pengemasan Penerangan, iklim kerja, debu, uap formaldehyde
Penerangan, iklim kerja, debu, uap formaldehyde
Penerangan, iklim kerja, debu, uap formaldehyde
Penerangan, iklim kerja, debu, uap formaldehyde
Penerangan, iklim kerja, debu, uap formaldehyde
Penerangan, iklim kerja, debu, uap formaldehyde
Penerangan, iklim kerja, debu, uap formaldehyde
Penerangan, iklim kerja, debu, uap formaldehyde


2.3. Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja Pada Industri Tekstil
Setiap industri memiliki potensi akan terjadinya bahaya dan kecelakaan kerja. Namun demikian peraturan telah meminta agar setiap industri mengantisipasi dan meminimalkan bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan atau terancamnya keselamatan seseorang baik yang ada dalam lingkungan industri itu sendiri ataupun bagi masyarakat di sekitar industri. Hal-hal yang menjadi permasalahan yang berkaitan dengan potensi bahaya kecelakaan kerja pada industri busana dapat dilihat pada tabel.
Tabel: Masalah Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja Pada Industri Tekstil
No Proses Produksi Potensi bahaya kecelakaan kerja
1
2
3

4

5
6 Gudang
Pola/Potong
Jahit

Pasang kancing

Setrika
Packing Bahaya kebakaran
Jari tangan terpotong, tersengat aarus Singkat
Jari terkena jarum, tersengat arus singkat, kebakaran
Jari tergencet mesin kancing, tersengat arus singkat
Tersengat arus singkat, kebakaran
Tergores dan bahaya jatuhan


2.4. Keserasian Peralatan dan Sarana Kerja Dengan Tenaga Kerja
Keserasian peralatan dan sarana harus diperhatikan pihak perusahaan dan disesuaikan dengan tenaga kerja yang dimilikinya agar kecelakaan kerja dapat diminimalisasi. Kesalahan atau ketidak serasian antara peralatan dan sarana kerja dengan pegawai yang menggunakan. Ketidak serasian antara peralatan dan sarana dengan tenaga kerja dapat menimbulkan berbagai masalah yang akhirnya dapat mengancam keselamatan dan kesehatan kerja pegawai atau tenaga kerja.
Permasalahan mengenai keserasian peralatan dan sarana kerja dengan tenaga kerja pada industri busana dapat dilihat pada tabel.
Tabel : Keserasian Peralatan Dan Sarana Kerja Dengan Tenaga Kerja
No Proses Produksi Faktor Ergonomi
1 Pemotongan Kain - Ukuran Meja Kerja
- Kursi duduk
- Sikap dan sistem kerja
- Cara dan sistem keja
2 Mesin jahit, obras, bordir - Ukuran Meja Kerja
- Kursi duduk
- Sikap dan sistem kerja
- Cara dan sistem keja
3 Seterika - Ukuran Meja Kerja
- Kursi duduk
- Sikap/ cara kerja
- Kesesuaian sikap/sistem kerja
4 Packing - Kegiatan angkat junjung
- Sikap dan cara kerja
- Ruang gerak


2.5. Faktor Manusia
Permasalahan yang terjadi pada faktor manusia meliputi faktor manajerial, dan faktor tenaga kerja. Permasalahannya dapat merupakan:


a. Manajemen:
 Pemahaman yang kurang tentang hiperkes dan keselamaatan kerja
 Tidak melaksanakan teknik-teknik hiperkes dan keselamatan kerja
 Tidak menyediakan alat proteksi/pelindung diri
b. Tenaga kerja:
 Tidak melaksanakan ketentuan-ketentuan K3
 Tidak mengenakan alat proteksi yang telah disediakan
 Tidak memiliki naluri cara kerja sehat
 Tingkat pengetahuan terhadap perkembangan teknologi industri.

2.6. Penyakit Akibat Kerja dan Yang Berhubungan Dengan Pekerjaan
a. Penyakit Akibat Kerja
Penyakit akibat kerja ini mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang mudah diakui.
b. Penyakit yang berhubungann dengan pekerjaan – work related disease
Adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pada pekerjaan memegang peranan bersama dengan factor resiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi yang kompleks.
c. Penyakit yang mengenai populasi pekerja
Penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab di tempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan.
d. Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja.
Berdasarkan SK Presiden No.22 tahun 1993, disebutkan berbagai macam penyakit yang timbul karena hubungan kerja yaitu :
1) Pneumoconiosis yang disebabkan oleh debu mineral pembentuk jaringan parut,yang silikonsnya merupakan factor utama penyebab cacat dan kematian
2) Penyakit paru dan saluran pernafasan (broncopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras.
3) Penyakit paru dan saluran pernafasan (broncopulmoner) yang disebabkan oleh debu kapas vlas, henep, dan sisal (bissinosis).
4) Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitivisasi dan zat
perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
5) Aliveolitis alergika yang disebabkan oleh factor dari luar sebagai akibat dari penghirupan debu organic.
6) Penyakit yang disebabkan oleh berilium atau persenyawaannya yang beracun.
7) Penyakit yang disebabkan kadmium atau persenyawaannya yang beracun.
8) Penyakit yang disebabkan faktor atau persenyawaanya yang beracun.
9) Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya yang
beracun.
10) Penyakit yang disebabkan oleh: mangan, arsen, raksa, timbal, fluor,benzena, derivat halogen,derivat nitro,dan amina dari benzena atau homolognya yang beracun.
11) Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol, atau keton.
12) Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol, atau keton.
13) Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan seperti karbon monoksida, hydrogen sianida, hydrogen sulfida, atau derivatnya yang beracun, amoniak seng, braso dan nikel.
14) Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot urat, tulang persendian, pembuluh darah tepi atau syaraf tepi ).
15) Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih.
16) Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektro magnetic dan radiasi mengion.
17) Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi, atau biologik.
18) Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter,pic,bitumen, minyak mineral, antrasena, atau persenyaweaan, produk atau residu dari zat tersebut.
19) Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh abses
20) Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminnasi khusus.
e. Penyakit-Penyakit Menular
Penyakit menular dapat disebabkan oleh :
1) Virus: penyakit kulit, cacar influensa, campak, poliomielitis, dan lain-lain
2) Kuman : Bakteri atau mikroba seperti tbc,tifus, colera, difteri, dan lain-lain.
3) Parasit : Parasit tumbuh-tumbuhan seperti ragi, jamur (fungus) Parasit hewani seperti: Protozoa (malaria,disentri),cacing (cacing pita cacing gelang, cacing keremi, dan lain-lain),serangga ( kutu rambut, kutu kudis, dan lain-lain)
Sebagian besar kuman tidak menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan dan disebut kuman non- patogen. Bakteri penyebab penyakit tersebut disebut kuman patogen. Diantara kuman-kuman golongan terahir ada juga yang berbahaya karena membuat racun (toksin).
f. Kesehatan Tenaga Kerja Wanita
Tenaga kerja pada industri busana, biasanya lebih banyak terdiri atas karyawan wanitayang memang sangat cocok untuk pekerjaan di garmen atau industri busana lainnya. Jelas terdapat perbedaan sifat antara pekerja laki-laki dan perempuan.
Perbedaan sifat ini berhubungan erat dengan hal-hal sebagai berikut :
1) Fisik wanita yang tercerminkan dalam ukuran dan kekuatan tubuh yang kurang dari pada ukuran serta kekuatan pria
2) Kehidupan khas biologis wanita, yakni berlangsungnya haid secara berdaur (siklus), kehamilan, dan mati haid (menopause)
3) Kedudukan sosiokultural wanita sebagai ibu dalam rumah tangga, dan akibat tradisi dan kebudayaan.
4) Faktor-faktor fisik, biologis dan sosiokultural pada tenaga kerja wanita dapat berakibat pembolosan (absentisme) dengan penurunan produktifitas, namun masalah demikian dapat ditanggulangi dengan pembinaan tenaga kerja wanita dan usaha-usaha lain yang berdampak positif. Dilain fihak higiene perusahaan dan kesehatan kerja telah memperhitungkan sifat-sifat kewanitaan tersebut dengan menganjurkan supaya disediakan kamar atau ruangan khusus guna beristirahat dan untuk keperluan-keperluan lain bagi wanita yang haid, disamping perundang-undangan yang mengatur cuti sewaktu haid, kehamilan dan melahirkan. Motivasi khusus mengenai kewanitaan di tempat kerja perlu dikembangkan, terutama di lapangan-lapangan pekerjaan yang keberhasilannya amat ditentukan oleh penampilan dan keluwesan pelayanan.









BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Kesehatan kerja merupakan spesialisasi dalam Ilmu Kesehatan / Kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar para pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setingi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit / gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum
b. Higiene perusahaan adalah upaya pemeliharaan lingkungan keja (fisik, kimia, radiasi, dan sebagainya) dan lingkungan perusahaan.
c. Tekstil adalah material fleksibel yang terbuat dari tenunan benang. Tekstil dibentuk dengan cara penyulaman, penjahitan, pengikatan, dan cara pressing.
d. Faktor Lingkungan Kerja di Perusahaa Industri Tekstil antara lain:
1) Penerangan
2) iklim kerja
3) debu
4) uap
5) formaldehyde
e. Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja Pada Industri Tekstil
1) Bahaya kebakaran
2) Jari tangan terpotong, tersengat aarus Singkat
3) Jari terkena jarum, tersengat arus singkat, kebakaran
4) Jari tergencet mesin kancing, tersengat arus singkat
5) Tersengat arus singkat, kebakaran
6) Tergores dan bahaya jatuhan
f. Keserasian Peralatan Dan Sarana Kerja Dengan Tenaga Kerja
Keserasian peralatan dan sarana harus diperhatikan pihak perusahaan dan disesuaikan dengan tenaga kerja yang dimilikinya agar kecelakaan kerja dapat diminimalisasi. Kesalahan atau ketidak serasian antara peralatan dan sarana kerja dengan pegawai yang menggunakan. Ketidak serasian antara peralatan dan sarana dengan tenaga kerja dapat menimbulkan berbagai masalah yang akhirnya dapat mengancam keselamatan dan kesehatan kerja pegawai atau tenaga kerja.
g. Kesehatan Tenaga Kerja Wanita
Tenaga kerja pada industri busana, biasanya lebih banyak terdiri atas karyawan wanitayang memang sangat cocok untuk pekerjaan di garmen atau industri busana lainnya. Jelas terdapat perbedaan sifat antara pekerja laki-laki dan perempuan.

3.2 Saran
1. Perlu lebih ditingkatkan lagi kualitas kerja dalam mengupayakan kesehatan dan keselamatan kerja yang sudah ada.
2. Penataan ruangan harus lebih diperhatikan menjadi lebih baik, supaya para karyawan lebih leluasa dalam melakukan pekerjaannya. Bengkel kerja utama industri jika memungkinkan dipindahkan ke tempat yang khusus disediakan untuk kegiatan industri, setidaknya diusahakan pembagian tempat pengolahan khusus yang bersekat dan masing-masing disendirikan sehingga ruang gerak menjadi luas.
3. Untuk menghindari sakit akibat kerja pekerja perlu melakukan olahraga yang teratur, dan setidaknya banyak bergerak dari pekerjaan yang biasa dilakukan, contoh apabila biasanya duduk sesekali berdiri dan berjalan agar gerakan dan posisi kerja para karyawan menjadi lebih bervariasi dan tidak monotonis.
4. Untuk menghindari kecelakaan akibat kerja, para pekerja perlu memakai alat pelindung seperti masker, tutup telinga, sarung tangan, kaca mata pelindung dan alas kaki, minimal sandal pada saat bekerja, supaya kesehatan dan keselamatan pekerja terjamin, yang dengan demikian akan meningkatkan kapasitas kerja.
5. Sebaiknya untuk pembuangan atau penimbunan sementara limbah disediakan lahan kosong tersendiri, atau setidaknya menempatkannya dalam karung, bak, atau lubang khusus sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan dan dari segi tata ruang pun menjadi lebih luas dan enak untuk dipandang.
6. Perusahaan (dalam hal ini industri kecil) yang belum mendapat tempat di organisasi Pukesmas maka hendaknya dimasukkan secara struktural kedalam organisasi tersebut. Sehingga industri ini akan lebih terayomi dalam hal pelayanan kesehatannya yang paripurna (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif), yang dalam hal ini ditekankan pada ruang lingkup kedokteran industrinya. Misalnya petugas kesehatan mengunjungi tempat-tempat industri secara rutin guna menilai kesehatan kerja di
perusahaan-perusahaan rumah tangga.




DAFTAR PUSTAKA

Dr Danur. Mareri-Materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat:widya medika, jakarta. 1992
http://majarimagazine.com/2009/05/plasma-dalam-industri-tekstil/
http://www.testex.com/index.php?id=55&L=3
http://hendrawansilondae.multiply.com/journal/item/6/hubungan_beban_kerja_dan_ergonomis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar